Aku Nur. Orang terbiasa
memanggil aku dengan sebutan Nung. Mau tau kenapa bisa dipanggil dengan sebutan
Nung? Ah tidak perlu diceritakan lah yaa. Aku tidak sedang ingin bercerita
tentang itu. Aku hanya ingin bercerita betapa Allah sangat sayang kepadaku.
Iya!! Sayangnya kelewatan banget!! Sangat diluar dugaan. Serius deh.
Aku Nung. Pernah
menempuh sekolah di suatu Universitas Negeri terkemuka di pinggiran Jakarta.
Sewaktu SMA aku sama sekali tidak terfikir dapat kuliah disana. Karena masuk ke
Universitas itu tidak mudah. Butuh perjuangan. Singkat cerita, aku ikut ujian
mandiri untuk masuk ke Universitas tersebut. Yaa semoga saja keberuntungan ada
padaku. Hingga akhirnya tanpa aku sangka tanpa aku duga, aku masuk ke
Universitas tersebut. Alhamdulillah. Suatu kebanggaan tersendiri bisa membuat
kedua orang tuaku tersenyum bahagia melihat hasilnya.
Aku Nur. Ritme belajar
di dunia perkuliahan ternyata sangat jauh berbeda dengan sekolah. Akupun dengan
cepat belajar beradaptasi. Sampai akhirnya aku sampai di semester 5. Semester
di mana tugas lagi banyak-banyaknya. Kegiatan tugas kelompok sedang menunggu di
setiap mata kuliah. Hingga suatu ketika, aku sempat merasa jenuh dengan dunia
perkuliahan. Aku putuskan untuk mengikuti kegiatan seminar yang ada di sebuah
ruangan yang dinamakan ruang teater. Disana ada seminar yang membahas tentang
dunia haji dan umrah. Cukup menarik. Aku putuskan untuk masuk dan mengikuti
seminar tersebut.
Panggil aku Nung. Di
dalam ruang teater, aku duduk dengan nyaman. Di depan sudah terlihat dengan
jelas jajaran narasumber yang boleh dibilang sangat ahli di bidangnya. Direktur
Jendral ibadah haji, ketua asosiasi travel haji umrah, menteri agama, dan
narasumber lain yang sukses membuat aku fokus menatap mereka semua. Seminar
dimulai dengan berdirinya menteri agama. Dilanjutkan oleh Direktur Jendral
ibadah haji yang saat itu menjabat. Hingga sampai kepada ketua asosiasi travel
haji seluruh Indonesia. Kalian tau? Beliau sukses membuat kita semua terpana
olehnya. Bukan karena fisiknya yang menarik. Tetapi karena beliau sukses
membuat kita berangan-angan untuk memiliki travel haji dan umrah. Ada pula yang
berharap bisa bekerja sebagai karyawan pada travel yang dimilikinya. Travel
tersebut memang travel yang boleh dibilang sangat menggiurkan pendapatannya.
Keuntungan satu bulan bisa mencapai angka 100 miliar!! Coba deh, gimana gak
kepingin kerja disitu?. Tidak terkecuali aku. Terlintas difikiranku untuk
menjadi karyawan di travel tersebut. Aku tau, tidak mudah masuk menjadi
karyawan di travel itu. Seleksinya sangat ketat. Maklumlah, travel bonafit.
Nur. Seminar tersebut
sukses membuatku terbius ingin sekali bekerja di travel tersebut. Padahal,
acara seminar tersebut sudah selesai. Tetapi pengaruh bicara ketua asosiasi
travel sangat membekas di hatiku. Aku ingin sekali bekerja disitu. Ingin!!
Tapi.. bagaimana caranya? Sulit rasanya. Hingga akhirnya aku membaca sebuah
buku yang menyatakan bahwa apabila kita sangat menginginkan sesuatu, percayalah
bahwa hal tersebut akan terjadi. Sesulit apapun pasti akan terjadi. Dengan
kekuatan do’a dan usaha tentunya. Sejak hari itu, aku selalu berdo’a agar aku
diizinkan oleh Allah agar bisa bekerja di travel tersebut. Bagaimanapun caranya
selama jalan yang kutempuh halal, aku harus bisa masuk.
Setiap hari, aku selalu
berdo’a agar keinginanku dapat terwujud. Usahaku? Aku mengaji
sebanyak-banyaknya. Karena travel tersebut juga sudah muncul iklannya di
televisi, aku selalu mengusap televisi ketika iklan travel tersebut muncul.
Sambil diusap sambil dzikir dan shalawat. Siapa tau bisa terkabul. Tidak
hanya itu, aku berusaha untuk cepat menyelesaikan kuliahku agar dapat bekerja
di travel tersebut. Selama itu, aku tidak pernah berhenti do’a, dzikir, shalawat agar keinginanku
terkabul. Bener-bener deh kepingin banget.
Hingga akhirnya aku
lulus kuliah. Wisuda. Dan mencari-cari link pekerjaan. Sempat terlintas
difikiranku untuk mengacuhkan keinginan agar dapat masuk ketravel tersebut.
Ternyata mencari kerja di Indonesia tidak semudah yang aku bayangkan. Sulit
sekali. Aku mencoba mengirim CV ke setiap kantor yang membuka lowongan
pekerjaan. Hasilnya? Nihil. Dua bulan sejak wisuda aku masih menganggur. Tapi
aku tidak menganggur di rumah. Ada saja pekerjaan rumah yang harus aku
selesaikan. Meringankan beban ibu, fikirku.
Satu persatu aku liat
lowongan pekerjaan. Sampai kepada informasi bahwa travel tersebut membuka
lowongan pekerjaan. Haahhh?? Ini seriuss?? Gak bohong??. Tanpa banyak bicara, Allahumma Shalli ‘Alaa Sayyidina Muhammad Wa
‘Alaa Sayyidina Muhammad, message sent!. Surat lamaran dan CV sukses
terkirim ke alamat emailnya. Aku hanya tinggal menunggu kabar dari travel
tersebut sambil mengirim surat lamaran ke perusahaan lain.
Nur namaku. Selang
beberapa hari, aku mendapatkan telepon dari nomor yang tidak kukenal. Aku
angkat dan “selamat siang, ini benar atas
nama Nur? Kami dari travel haji dan umrah berniat untuk mengundang interview di
kantor kita pada hari senin besok. Apakah bersedia?”. “ya!! Saya bersedia. Terima kasih.” Rasanya bagai disiram air dingin
ditengah cuaca terik. Senang sekali. Tidak menyangka baru dipanggil interview
sudah sesenang ini. Hingga tiba hari aku diinterview. Berbagai macam rasa
muncul di benakku. Takut, senang, khawatir, bingung bercampur aduk. Tiba
giliranku dipanggil. Mulutku komat-kamit tidak berhenti berdzikir. Berharap keinginanku dapat terkabul. Setelah selesai
menjelaskan tentang diriku, orang yang menginterview aku berbicara menjelaskan
tentang perusahaan tersebut. Kalian tau? Pandanganku memang memperhatikannya.
Tapi hatiku tidak berhenti berdzikir dan
bershalawat. Berharap keajaiban
terjadi pada diriku. Selesai proses interview, aku pulang. Diperjalanan menuju
rumah, aku selalu berdo’a dan berharap agar dapat bekerja di travel yang sangat
aku impikan sejak semester 5 di dunia perkuliahan.
Nung. Hari kamis, aku
ditelepon oleh nomor yang tidak kukenal. Kebetulan pada saat itu aku sedang
berada diluar menemani ibuku pergi mengantarkan barang. Aku angkat telepon itu.
“halo? Mbak Nur ya? Kami dari travel yang sewaktu hari senin mewawancara
Mbak. Selamat ya Mbak diterima di travel kami. Apakah besok sudah bisa mulai
bekerja?”
Satu detik.. dua
detik.. tiga detik... empat detik...
“halo Mbak masih disana? Halo? Kok tidak ada suaranya ya?”
“eh iya Bu bisa. Saya bisa bekerja besok. Terima kasih banyak Bu”
“baik, sama-sama. Selamat siang”
Kau tau?? Allah memang
baik. Allah tidak akan pernah ingkar janji kepada hambaNya yang mau berdo’a dan
berusaha menjadi yang terbaik. Cinta Allah kepada hambaNya yang benar-benar
percaya kepadaNya memang tidak pernah bohong. Kini, aku bekerja di sebuah
travel yang aku impikan sejak semester 5 di bangku kuliah. Travel yang setiap
bulannya meraup keuntungan yang tidak sedikit. Travel yang menjadi andalan
setiap umat islam untuk melaksanakan ibadah haji maupun umrah. Aku cinta Allah.
Sangat cinta.
****
Cerita diatas merupakan
kisah nyata. Sangat nyata. Penulis mendengar sendiri cerita tersebut dari Nung.
Bisa menarik kesimpulan dari cerita tersebut?? Yap. Benar sekali. Kekuatan
do’a, dzikir, dan shalawat. Percaya bahwa Allah akan
menepati janji bagi siapa saja hambaNya yang beriman yang memiliki keinginan
besar akan sesuatu.
Allah tidak pernah
meninggalkan hamba-hambaNya. Allah selalu cinta kepada hambaNya sekalipun
hambaNya tidak mengingatNya. Kalaupun ada ujian yang sedang kita hadapi di
dunia, bukan karena Allah tidak cinta. Melainkan karena Allah sangat mencintai
kita. Allah hanya ingin menguji seberapa besar cinta yang kita berikan kepada
Sang Maha Pencipta.
Jangan pernah
menyepelekan kekuatan do’a, dzikir, dan
shalawat. Karena kegiatan tersebut
merupakan kunci kesuksesan sebuah kehidupan. Cuma do’a, dzikir, dan shalawat??
Tidak ada usaha?? Siapa bilang? Usaha harus dong. Tapi jangan lupakan do’a, dzikir, dan shalawat. Setiap kejadian di bumi sudah diatur oleh Sang Sutradara.
Kita tidak bisa memungkiri akan hal itu. Diterima atau tidaknya kita di suatu
perusahaan tidak lepas dari racikan Sang
Sutradara.
Banyak sekali orang
yang masih berfikir kalau ingin mendapatkan pekerjaan yang layak ya usaha,
usaha, dan usaha. Jangan diam diri. Jika berhasil? Pasti jawabannya, ini hasil usahaku. Aduuh jangan sampai
kita menjadi pribadi yang seperti itu ya. Jangan pernah ada yang menyepelekan
kekuatan do’a, dzikir, dan shalawat. Bener deh. Silahkan dicoba
bagi kamu yang ingin menjadi manusia yang banyak harta. Apa yang dilakukan?
Usaha, do’a, dzikir, dan shalawat. Niscaya, Allah akan memberikan
apa yang kita butuhkan.
Komentar
Posting Komentar