Langsung ke konten utama

Resensi Novel “Sunset Bersama Rossie”


Judul buku                 : Sunset Bersama Rossie 
Pengarang                  : Tere Liye
Penerbit                     : Mahaka
Kota tempat terbit      : Jakarta
Tahun terbit               : 2010
Tebal                         : iv+427
Harga                        : Rp 60.000,00

Apakah kesempatan itu masih ada?. Apakah masih ada ruang bagi orang yang bersabar?? Sepuluh tahun lebih tidaklah sebentar bagi seorang yang memuja cinta. Sepuluh tahun lebih bukanlah waktu yang sebentar bagi seorang Tegar. Tidak hanya sepuluh tahun dia menunggu dan memendam, tapi lebih dari tiga puluh tahun dia memendam rasa cinta kepada pujaannya. Tapi sayang, semua itu kandas di tengah jalan karena tidak adanya keberanian dalam diri Tegar untuk menyatakan. Semua itu musnah tatkala pujaan hatinya dipinang oleh orang lain. Tak pelak Tegar merasakan keperihan yang amat sangat dalam.
Tegarpun memutuskan untuk pergi menjauhi Rossie. Menjauh dari nama Rossie. Menjauh dari kehidupan yang berbau Rossie. Itu dilakukannya agar dia tidak merasakan keperihan secara terus menerus. Disatu sisi, Tegar ingin terus bersama Rossie karena dia mencintainya sejak kecil. Tetapi disisi lain, Tegar tak ingin rasa sakit hatinya bertumbuh terus menerus semakin dalam. Jika itu terjadi, mungkin Tegar tidak akan sesukses sekarang ini. Semua itu dilakukan demi menyembuhkan rasa sakit yang dirasakannya.
Tetapi ketika rasa sakit itu perlahan hilang, mengapa rasa itu kembali?? Mengapa dia kembali? Apakah kesempatan itu masih ada? Bali yang terkenal dengan keindahannya, pada saat itu terkena bom. Tegar yang entah kapan menjadi akrab kembali dengan Rossie merasa bertanggung jawab atas Rossie dan keluarganya. Dia merasa kasihan. Bukan karena cinta dahulu yang dirasakan Tegar. Tetapi dia menolong karena cinta dengan sahabat. Hanya sebagai sahabat. Dua tahun berselang, orang terdekat Tegar mengakatan kalau Tegar masih mencintai Rossie. Tegar kembali merasakan cinta yang dahulu dirasakannya. Kegundahan dirasakan kembali oleh Tegar karena dalam keadaan tersebut dia juga berjanji akan menikahi Sekar. Wanita yang membantunya keluar dari masalah yang dihadapi Tegar sedari kecil.
Novel yang tersusun dalam bahasa yang apik ini berhasil membuat para pembacanya tertarik untuk terus membaca hingga akhir. Kata-kata yang banyak memotivasi pembaca tentang sebuah kesempatan berhasil diungkapkan dalam bahasa sehari-hari. Walaupun dilihat dari segi cover kurang menarik minat, namun isi dalam novel sangatlah bagus dan bisa menjadi pembelajaran bagi pembacanya. Disinilah kalimat “jangan menghakimi buku hanya dari covernya” berlaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kkn

Majelis taklim. Iyaapp. Sekarang lagi di majelis taklim. Terdengar suara bocah bocah lucu yg sedang bersenandung. Mengucap lagu lagu sendu. Terdengat merdu nan lucu Ah ibu, disatu sisi aku merindu akan rumah. Disisi lain, mungkin aku akan sedih meninggalkan kampung ini. Kampung di mana aku dan teman teman mengabdi. Allahumma... Lancarkan sampai akhir acara. Aamiin

Keras

kamu tau?. aku itu tipe manusia yang keras. cukup sulit untuk menasihati aku. membuat hatiku lapang akan sesuatu. bahkan, terkadang sampai sakit aku dibuatnya. watak ini cukup menyiksa. aku tahu, memiliki sikap seperti ini sangat buruk. tidak sedikit orang yang kusayangi sampai tarik nafas dalam untuk menghadapiku. sampai pada suatu masa, aku menyadari kalau memiliki sikap seperti ini sangat tidak baik. tidak ada seorangpun yang mampu mengubahnya kecuali diriku sendiri. aku harus berdamai dengan diriku. tidak mudah memang. tetapi harus. bayangkan.. karena sikap buruk yang aku miliki ini, seringkali aku merugi. tak jarang air mata melulu menetes sampai banjir di lantai. aku menyadari kalau air mata jatuh kelantai setelah mataku merah memar. seperti dibogem pahlawan super. lantai sampai licin karena air mataku. pertanda kalau aku sudah mulai lelah akan sikapku yang buruk ini. percayalah.. rasa ini menyiksa. kalau ada yang mengatakan putus cinta itu siksa, kamu salah besar. siksa itu keti...