Langsung ke konten utama

SEKAPUR KISAH


Kau tau?? Kini aku sudah beranjak dewasa. Tidak lagi muda seperti dahulu. Dahulu ketika aku berusia sekitar sepuluh hingga tujuh belas tahun. Yaa, aku anggap usia itu memang usia yang masih muda. Masa di mana aku masih berfikir kalau bermain dan jajan adalah dunia aku. Tidak perduli seberapa seringnya waktuku habis terbuang hanya karena bermain. Tidak perduli seberapa borosnya aku ketika menghabiskan uang sakuku untuk jajan berbagai macam makanan yang kusuka. Hatiku hanya kenal kata senang ketika aku bisa merasakan kebebasan yang luar biasa. Pada usia sepuluh hingga tujuh belas tahun itulah aku belum mengerti bagaimana susahnya mendapatkan uang. Bagaimana orang tua aku luntang lantung berpeluh keringat demi mendapatkan sepeser uang untuk membahagiakan anak-anaknya. Ya! Di rumah, hanyalah ayah yang sedari senin hingga jumát mengeluarkan tetes demi tetes keringat. Kata demi kata mengeluarkan sebuah penawaran dan harga. Kau tau ayahku bekerja sebagai apa?? Ayahku bekerja sebagai wirausaha. Beliau menawarkan produknya ke berbagai macam perusahaan. Demi mendapatkan sepeser uang untuk keluarganya. Ayahku memang lebih superman daripada superman deh! Hihi..
Kau bertanya ibuku?? Ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga. Beliau bekerja bukan?? Meskipun tidak menghasilkan uang, tetapi beliau sangat lihai dalam mengatur keuangan keluarga. Semua hasil usaha yang ayah dapatkan, diserahkan kepada ibuku. Sungguh romantis. Aku senang mendapatkan orang tua seperti mereka. Ayah tidak pernah curang dalam menjalankan pekerjaannya. Begitupun ketika mendapatkan uang. Beliau selalu menyerahkan kepercayaannya kepada ibu. Ibuku juga selalu menerima hasil usaha ayah dengan hati terbuka. Beliau tidak pernah mengeluh jika ayah mendapatkan hasil usaha yang kurang dari cukup. Semua hasil yang didapatkan diterima dengan senang. Karena bagi mereka, rezeki yang dilimpahkan Allah hari ini adalah rezeki yang telah diridhoi olehNya. Maka dari itu kita patut bersyukur.
Waduuh..kok sepertinya keluar dari wacana ya?? Hehe. Okelah kalau gitu kita kembali membicarakan tentang diriku. Nah iya, dulu aku seperti itu. Cukup boros. Walaupun tak seboros adik laki-laki aku #pembelaan diri. Terkadang jika aku merasa mempunyai uang saku atau uang jajan yang lebih, aku selalu dengan senang hati membayari jajan kepada teman-teman aku. Walaupun tidak seberapa, tapi aku sangat senang bisa berbagi. Selagi ada kenapa enggak? Begitu fikirku.
@@@
Kini usiaku semakin berkurang. Tepatnya kini aku berusia sembian belas tahun. Tidak lagi muda dan belum cukup untuk dikatakan tua. Tapi jujur aku belum sepenuhnya dewasa. Meskipun kini aku sudah mengerti bagaimana susahnya mencari uang, terkadang masih ada rasa egoku yang berkata kalau aku ini harus selalu bersenang-senang layaknya masa kecilku yang boleh dibilang tidak mengenal kata sedih kecuai tidak diberikan mainan.
Meskipun demikian, aku selalu berusaha untuk belajar. Belajar bagaimana menjadi wanita dewasa yang mengerti bagaimana susahnya menjalani hidup yang pelik seperti ini. Tidak masalah bila dulu aku belum mengerti bagaimana ssusahnya menjalani hidup. Namun kini, sebisa mungkin aku akan berusaha untuk belajar dengan baik. Agar (meskipun belum berkeluarga) aku dapat terbiasa menghadapinya.
Usia yang tidak lagi muda ini, aku mulai mengerti apa makna kehidupan. Bagaimana menghadapinya hingga menjalaninya dengan baik. Meskipun tidak sempurna tentunya. Aku mulai memperhatikan bagaimana ayah dengan susah payah mencari uang, serta ibu dengan teliti mengatur keuangan keluarga. Tidak! Tidak hanya memperhatikan. Tapi aku juga berusaha untuk merasakan bagaimana lelahnya mendapatkan sepeser uang. Ternyata cukup pelik! Tidak mudah mendapatkan uang ratusan juta selama satu minggu. Dan itu yang ayah lakukan hingga berhasil. Bayangkan saja, pernah aku memperhatikan bahwa ayahku bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya dalam waktu satu minggu. Aku tanya kepada beliau. Jawabnya: “itu uang tagihan. Uang tagihan para pembeli yang tahun lalu belum dibayar ke ayah”. Ooh..ternyata seperti itu. Tapi tunggu dulu! Tagihan tahun lalu?? Sebanyak itu?? Hebat sekali. Ternyata secara tidak langsung ayah punya tabungan. Tentunya bukan tabungan di bank atau di celengan yang biasa disimpan di rumah. Tetapi tabungan hutang para pembeli. Aku terpana dibuatnya.
Pernah suatu hari aku diminta oleh kedua orang tuaku untuk mengajar ngaji dalam sebuah keluarga. Aku mengajar keempat anak laki-laki dalam keluarga tersebut. Mereka semua tidak terlalu pandai dalam mengaji. Makanya aku diminta untuk mengajar mereka. Kalau kau Tanya apakah aku dibayar atau tidak? Jelas dong aku dibayar atau diberikan upah hehe. Tapi itu diberikan secara ikhlas. Aku tidak tahu menahu tentang pembayaran itu. Yang mengurus ayah. Ayahku bilang kepada orang tua muridku kalau mereka ingin membayar,silahkan bayar seikhlasnya. Kita tidak ingin mematok berapa upah yang mau diberikan. Orang tuaku memang begitu, dalam urusan pekerjaan harus mempunyai target berapa rupiah yang harus didapatkan. Namun bila ada urusan ibadah seperti ini, mereka tidak akan mematok berapa harganya. Karena yang diinginkan hanyalah pahala dari Yang Maha Kaya. Itulah yang mereka terapkan kepada kami.
Hingga akhirnya aku mendapatkan upah pertamaku. Alhamdulillah aku senang sekali. Rasanya puas bisa memakai uang untuk jajan dari hasil keringngat sendiri. Mungkin bila dibandingkan bila aku diberikan uang jajan dengan uang berlimpah namun bukan uang sendiri dengan aku jajan dengan uang seadanya namun hasil usaha sendiri, tentunya aku akan lebih memilih uang dari hasil keringat sendiri. Ada sensasi tersendiri bila kalian (para pembaca) dapat merasakannya.
Sekarang aku bukan aku yang dulu. Aku yang sekarang adalah aku yang selalu ingin berusaha menjaga perasaan orang tuaku. Aku yang sekarang bukanlah aku yang selalu nuntut minta uang jajan. Aku yang sekarang adalah aku yang selalu ingin berusaha mendapatkan uang jajan melalui hasil keringat sendiri. Agar aku dapat membahagiakan diriku sendiri dan tentunya kedua orang tuaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Novel “Sunset Bersama Rossie”

Judul buku                  :  Sunset Bersama Rossie  Pengarang                  : Tere Liye Penerbit                     : Mahaka Kota tempat terbit      : Jakarta Tahun terbit               : 2010 Tebal                         : iv+427 Harga                        : Rp 60.000,00 Apakah kesempatan itu masih ada?. Apakah masih ada ruang bagi orang yang bersabar?? Sepuluh tahun lebih tidaklah sebe...

Kkn

Majelis taklim. Iyaapp. Sekarang lagi di majelis taklim. Terdengar suara bocah bocah lucu yg sedang bersenandung. Mengucap lagu lagu sendu. Terdengat merdu nan lucu Ah ibu, disatu sisi aku merindu akan rumah. Disisi lain, mungkin aku akan sedih meninggalkan kampung ini. Kampung di mana aku dan teman teman mengabdi. Allahumma... Lancarkan sampai akhir acara. Aamiin

Keras

kamu tau?. aku itu tipe manusia yang keras. cukup sulit untuk menasihati aku. membuat hatiku lapang akan sesuatu. bahkan, terkadang sampai sakit aku dibuatnya. watak ini cukup menyiksa. aku tahu, memiliki sikap seperti ini sangat buruk. tidak sedikit orang yang kusayangi sampai tarik nafas dalam untuk menghadapiku. sampai pada suatu masa, aku menyadari kalau memiliki sikap seperti ini sangat tidak baik. tidak ada seorangpun yang mampu mengubahnya kecuali diriku sendiri. aku harus berdamai dengan diriku. tidak mudah memang. tetapi harus. bayangkan.. karena sikap buruk yang aku miliki ini, seringkali aku merugi. tak jarang air mata melulu menetes sampai banjir di lantai. aku menyadari kalau air mata jatuh kelantai setelah mataku merah memar. seperti dibogem pahlawan super. lantai sampai licin karena air mataku. pertanda kalau aku sudah mulai lelah akan sikapku yang buruk ini. percayalah.. rasa ini menyiksa. kalau ada yang mengatakan putus cinta itu siksa, kamu salah besar. siksa itu keti...