Langsung ke konten utama

buapake


Siang itu aku akan pergi dengan ayah. Seingatku pada saat itu ayah sedang berpuasa karena memang hari kamis. Aku? Aku tidak puasa karena yaaah biasa laah ada tamu yang menghalangiku untuk berpuasa. Singkat cerita kami berdua berangkat menggunakan mobil. Hanya berdua!!! Yaah mungkin menurut kalian itu biasa. Memang kenapa kalau satu mobil dengan ayah?? Masalah?? Aneh?? Mungkin itu yang terfikir oleh kalian. Tapi bagiku itu jarang terjadi dan sungguh ketika di mobil kami jarang berbincang. Hanya sesekali kami keluarkan gurauan yang menurutku itu hanya basa-basi belaka. Daripada sepi. Begitu fikirku. Alunan music di mobil yang tidak terlalu keras cukup membantu menghilangkan rasa sunyi di mobil.
Siang itu, ayah akan mengantarkanku ke dokter kulit. Perlu kalian ketahui mengapa aku minta diantar kesana? Sebelumnya aku sakit cacar. Sakit itu menyerang ke bagian mukaku. Sebagai anak perempuan aku cukup malu akan hal tersebut. Makanya aku minta diantar kesana hehe. Daerahnya cukup jauh loh. Memakan waktu sekitar dua jam jika ingin kesana. Sungguh pengorbanan yang luar biasa disaat ayahku sibuk akan pekerjaannya tetapi masih sempat mengantarkanku ke dokter kulit.
Selama perjalanan ayah suka berdesis “sshh..ah au..sshh..” aku memicingkan mata. Heran. Yaa mungkin biasa aja ah. Akupun cuek dan kembali memperhatikan jalan diiringi alunan music. Lima belas menit berlalu dan ayah kembali berdesis seperti itu. Aku semakin heran. “kenapa yah?” tanyaku penasaran. “nih kakinya sakit”. “mana?” seruku sambil melihat kea rah kaki ayah. “ini” jawab beliau sambil mengangkat kedua kakinya. Innalillahi..ayah kenapa? Itu apa yah?? Sejak kapan? Sakit banget ya yah? Kok ayah tahan banget sih? Kenapa ayah jarang mengeluh? Kenapa aku tidak peka terhadapmu yah?. Pertanyaan itu  yang langsung terucap di hatiku. Tapi mulutku berkata lain, “kenapa yah?sejak kapan?”. “yaa dua mingguan lah, ayah juga gatau ini kenapa. Kata pak Yanto (tukang refleksi) sih gapapa”. “hem gitu” tanggapan bodoh!!. Entah mengapa air mataku keluar. Bukan hanya karena rasa sakit yang dialami ayah, tapi sungguh aku kagum karena beliau sama sekali tidak pernah mengeluh akan sakitnya itu. Sakit itu tidak hanya satu kaki tetapi keduanya. Jelas beliau kesakitan.
Tuhan, mengapa Engkau memberikan cobaan ini kepada ayah? Apakah cobaan yang sebelum-sebelumnya masih kurang?? Belum cukupka Tuhan akan cobaan beratMu yang kau berikan sebelumnya?? Dan sekarang beliau harus bertahan kembali dengan cobaan yang baru. Sungguh luar biasa kuasamu Tuhan

@@@

Sebelum sampai ke dokter, ayah mampir dulu ke kantor untuk mengambil buku. Di daerah bandara halim perdanakusuma. GILA!! SUNGGUH GILA!! Sejauh inikah ayah mencari nafkah?? Ini sih masih mending pakai mobil tidak kehujanan ataupun kepanasan. Tapi..tapi kalau pakai motor bagaimana?? Sungguh hatiku menjerit membayangkannya. Sudah sangat hebat perjuanganmu ini tapi kau tidak pernah mengeluh ayah. Sungguh aku sangat mencintaimu.
Sesampainya di kantor tersebut, ayah mengambil buku yang dibutuhkan. Cukup banyak dan langsung dimasukkan kebagasi mobil. Setelah itu ayah langsung menancap gas menuju dokter kulit. “ssshh..au..sshh” aku nengok “sakit banget ya yah??”. “yaa begitulah kak”. Aku memalingkan muka dan kembali terisak dalam diam. Sangat kecil isakanku. Itu memang sengaja aku lakukan agar ayah tidak mendengar. Aku malu kalau ayah tau aku sedang menangis.
Butuh waktu sekitar satu jam dari bandara halim menuju dokter kulit. Sesampai disana kira-kira pukul setengah empat sore. Kamipun turun dan langsung lapor pada pegawai kalau sebelumnya kami sudah mendaftar. Setelah itu kami menunggu antre. Cukup lama menunggu dan akhirnya setengah lima sore kami baru masuk ruangan dokter. Sungguh perjuangan. Akupun diperiksa, setelah itu ayah juga minta diperiksa oleh dokter akan penyakitnya. Dokter memberitahu penyakit apa yang diderita ayah. Heemm menyedihkan. Bagiku penyakit apapun sangat menyedihkan walaupun sakitnya tergolong ringan. Tapi ini cukup membuatku khawatir. Itu tidak hanya luka tetapi juga bengkak!! Lumayan besar. Kanan kiri. Oh ayah, hatiku pilu melihatnya.
Dokterpun memberikan resep obat. Setelah membayar obat, ayah izin kepadaku untuk melaksanakan shalat ashar. Aku mengangguk dan aku menunggu obat selesai diracik. Singkat cerita, aku selesai mengambil obat dan kamipun langsung pulang. Jangan ditanya, perjalanan pulang sangat macet dan itu cukup membuatku stress. Bukan stress dengan diriku yang kecapekan tetapi aku stress karena khawatir dengan ayah. Aku ingin cepat sampai rumah dan beliau sesegera mungkin sampai ke rumah dan beliau cepat istirahat. Terlebih beliau dalam keadaan berpuasa. Pasti sangat lapar.
Biadab!! Kenapa macet sekali??!! Tidakkah ada yang perduli dengan ayahku?? Beliau sakit. Tolong jangan macet seperti ini. Aku muak merasakannya. Cepatlah lancer. Kasihan ayahku berdesis kesakitan seperti itu.
“masih sakit yah?” pertanyaan bodoh!!
“iya nih sakit haha”
Hanya itu yang beliau ucapkan. Mana keluhanmu?? Mana yah?? Mengapa ayah malah tertawa dalam kesakitan?? Ayah mana keluhannya?? Mengapa tidak mengeluh?? Mengapa hanya berdesis seperti itu??. Sungguh dengan kau bersikap seperti itu  membuatku semakin menderita dan memaki jalanan yang macet seperti setan ini!!

@@@

Pasti perih ya yah?? Tanyaku pada diri sendiri. Aku memang tidak dekat dengan ayah. Entah akibat pola asuh atau aku yang terlalu menjauhkan diri. Tapi dari itu semua aku melihat sosok ayah yang..akhh sangat hebat. Lebih hebat dari ayah kalian semua yang membaca!! Aku bangga dengan ayahku. Andai kata aku dekat dengan ayah pasti beliau sering bercerita denganku tentang apa yang dideritanya.
Ayah sosok yang TIDAK PERNAH berkata macam-macam tapi cukup dengan perbuatan beliau ungkapkan cinta kepada kami. Aku tau yah..aku tau akan pekerjaanmu yang sangat melelahkan. Aku tau akan dirimu yang tidak tega melihat kami tidak berdaya. Aku tau kau amat mencintai kami. Kau terlalu sabar yah. Terlalu sabar menghadapi kenakalan kami. Kau sakit tapi mengapa kau tidak mengeluh?? Kami sakit sedikit saja kami mengeluh yah..
Oh ayah..Syafakallah
Allahuyubaariikfiik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Novel “Sunset Bersama Rossie”

Judul buku                  :  Sunset Bersama Rossie  Pengarang                  : Tere Liye Penerbit                     : Mahaka Kota tempat terbit      : Jakarta Tahun terbit               : 2010 Tebal                         : iv+427 Harga                        : Rp 60.000,00 Apakah kesempatan itu masih ada?. Apakah masih ada ruang bagi orang yang bersabar?? Sepuluh tahun lebih tidaklah sebe...

Kkn

Majelis taklim. Iyaapp. Sekarang lagi di majelis taklim. Terdengar suara bocah bocah lucu yg sedang bersenandung. Mengucap lagu lagu sendu. Terdengat merdu nan lucu Ah ibu, disatu sisi aku merindu akan rumah. Disisi lain, mungkin aku akan sedih meninggalkan kampung ini. Kampung di mana aku dan teman teman mengabdi. Allahumma... Lancarkan sampai akhir acara. Aamiin

Keras

kamu tau?. aku itu tipe manusia yang keras. cukup sulit untuk menasihati aku. membuat hatiku lapang akan sesuatu. bahkan, terkadang sampai sakit aku dibuatnya. watak ini cukup menyiksa. aku tahu, memiliki sikap seperti ini sangat buruk. tidak sedikit orang yang kusayangi sampai tarik nafas dalam untuk menghadapiku. sampai pada suatu masa, aku menyadari kalau memiliki sikap seperti ini sangat tidak baik. tidak ada seorangpun yang mampu mengubahnya kecuali diriku sendiri. aku harus berdamai dengan diriku. tidak mudah memang. tetapi harus. bayangkan.. karena sikap buruk yang aku miliki ini, seringkali aku merugi. tak jarang air mata melulu menetes sampai banjir di lantai. aku menyadari kalau air mata jatuh kelantai setelah mataku merah memar. seperti dibogem pahlawan super. lantai sampai licin karena air mataku. pertanda kalau aku sudah mulai lelah akan sikapku yang buruk ini. percayalah.. rasa ini menyiksa. kalau ada yang mengatakan putus cinta itu siksa, kamu salah besar. siksa itu keti...